PERLU ADA KURIKULUM PERSPEKTIF DIFABILITAS

SIGAB, 20 Januari 2010 Perlu ada sebuah pematangan konsep tentang difabel dan perspektif difabilitas di Indonesia. Setidaknya, hal inilah yang muncul pada sebuah diskusi santai yang berlangsung di SIGAB yang diikuti oleh beberapa staf dan relawan SIGAB serta beberapa project officer baru Handicap International untuk program Disability Rights di Indonesia.

Diskusi santai yang dilaksanakan di pendopo markas SIGAB di komplek perumahan sawitsari itu dibuka oleh Belly Lesmana, disability rights project Manager Handicap International di Yogyakarta. Mengawali diskusi tersebut, Belly menyatakan bawa kunjungan HI ini merupakan bagian dari training/orientasi yang diperuntukkan bagi project officer HI yang baru untuk lebih mengenal difabel, terutama hal-hal yang berkait dengan organisasi-organisasi difabel serta pergerakan difabel di Indonesia. Hal ini penting karena nantinya, apa yang menjadi pekerjaan mereka akan sangat berkait dengan hal-hal tersebut.

Pada kesempatan diskusi tersebut, dibahas beberapa hal mengenai difabilitas, serta keberadaan SIGAB sebagai salah satu organisasi yang berkonsentrasi kepada promosi dan advokasi hak-hak difable di Yogyakarta, Indonesia.

Berbicara tentang SIGAB, Joni, direktur SIGAB mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya telah berdiri sejak 5 Mei 2003. Menurutnya, lahirnya organisasi ini diawali dari sebuah diskusi antara beberapa orang aktifis difabel kala itu, yang kemudian berlanjut dengan pembicaraan intensif yang mengkaji tentang permasalahan dan situasi difabel kala itu, yang kemudian berujung dengan kesepakatan untuk mendirikan SIGAB.
”Di SIGAB, mulai dari awal pendirian sampai Semarang, saya awet tetap menjadi yang termuda dan teryunior…:). Dari diskusi kita, ada sebuah pemahaman bersama bahwa salah satu masalah besar bagi difabel adalah alienasi sosial yang terjadi baik secara kultural maupun struktural. Inilah yang kemudian menyebabkan berjadinya rangkaian diskriminasi bagi difabel. Kalau dikaji lebih jauh lagi, ada banyak hal di belakangnya mulai dari stigma, sampai kepada bagaimana difabel dipandang dan didefinisikan yang pada akhirnya berimplikasi pada treatment masyarakat dan pemerintah yang pastinya akan lahir berdasarkan cara pandang itu. Dari situlah, kita memandang bahwa semestinya difabel dapat diterima sebagai bagian dari masyarakat yang inklusif. Untuk itulah SIGAB berdiri dan ada sampai sekarang ini.

Pergerakan Difabel

Berbicara tentang pergerakan difabel, menurut Joni, haruslah jelas apa yang dimaksud sebagai pergerakan difabel, serta siapakah pelaku dari pergerakan tersebut. Menurutnya, sbagai kelompok yang jelas-jelas merupakan subyek yang teralienasi dan termarjinalkan, sudah semestinya kalau difabel sendirilah yang mesti menjadi driver atas apa yang dinamakan dengan pergerakan difabel. Dia mencontohkan bagaimana negara seperti Inggris yang telah berhasil merumuskan apa yang mereka katakan sebagai ”social model of disability” yang telah menjadi prinsip atau bahkan ruh dari pergerakan difabel di Inggris, yang bahkan sampai sekarang menjadi prinsip yang melatarbelakangi lahirnya model difabilitas dengan pendekatan hak asasi manusia. ”Nah, di Indonesia, kelompok generasi muda difabel yang sekarang telah mulai menawarkan paradigma baru dengan pengistilahan difabel bukannya ”cacat” mestinya mampu memformulasikan paradigma ini dengan lebih konkrit untuk menjadi sesuatu yang dapat dijadikan sebagai acuan pergerakan bersama”.

Inilah yang menurut Joni sampai sekarang ini belum terjadi. Sepanjang perjalanan pergerakan difabel, menurut Joni, difabel sendiri belum dapat merumuskan secara jelas mengenai blue print dari gerakan difabel itu sendiri. Di satu sisi perkembangan pergerakan difabel masih diwarnai dengan friksi antara generasi muda dan tua yang kontraproduktif karena tidak pernah menawarkan sebuah perdebatan idiologis yang mengarah kepada formulasi prinsip dan idiologi yang jelas. Di sisi lain, gerakan yang ada masih belum mengkolektif sehingga belum dapat memunculkan sebuah arus tekanan yang deras, sebagaimana layaknya sebuah social movement. Karakteristik perjalanan pergerakan difabel sendiri dari tahun ke tahun menjadi terkesan pasang surut, tidak selayaknya pergerakan isu-isu minoritas lain seperti perempuan, kelompok LGBT, maupun kelompok minoritas lain yang begitu kencang melaju dengan pergerakannya di Indonesia.

Mengenai keterlibatan INGO dalam mendorong kesetaraan hak difabel, menurut Joni mereka mempunyai peran yang sebenarnya sangat menentukan sebagai salah satu support system atas percepatan pergerakan tersebut. Namun yang mesti diingat adalah bahwa mereka itu bukanlah bagian internal dari pergerakan, sehingga harus hati-hati untuk membatasi agar peran mereka tidak menjadi on behalf atau menjadi representasi difabel sendiri. Batasan ini sangat jelas dan tidak dapat ditawar-tawar dalam pergerakan kita.

YANG LEMAH ATAU DILEMAHKAN?

Dalam era pendekatan social developmental, sangat penting menurut Joni untuk melihat difabel secara lebih obyektif, bukan hanya melihat apa yang terjadi secara fisik atau mental atau yang orang katakan sebagai ”kecacatan” saja, tapi bagaimana difabel dilihat secara utuh sebagai seorang manusia. Anggapan bahwa difabel lemah secara mental, fisik, maupun psikologis mungkin menjadi penilaian awal ketika seseorang mengenal difabel. Tapi apakah benar seperti itu?

Seorang yang tak berkaki, hingga dinilai bahwa dia tak mampu untuk menolong dirinya sendiri untuk berpindah tempat sekalipun, ternyata dapat melakukan hal yang lebih dari apa yang dilakukan rang kebanyakan ketika masalah mobilitasnya terjawab dengan adanya kursi roda, lingkungan yang ramah, sarana transportasi yang aksesibel, atau bahkan lingkungan dan sarana kerja yang mendukung. Dan mungkin anda pun tak membayangkan kalau penulis blog ini adalah seorang tunanetra total yang dalam pandangan sebagian masyarakat awam, tunanetra hanyalah sosok yang selalu tertinggal dalam nformasi.. Inilah fakta yang menunjukkan bahwa sebenarnya, apa yang terjadi dengan difabel yang terlihat sebagai sebuah kelemahan, sebenarnya tak lebih dari sebuah konstruksi sosial yang sebenarnya justru melemahkan dan menidak-mampukan.

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: