TUNANETRA MENGOPERASIKAN MOBILE PHONE SECARA MANDIRI; BISAKAH?

March 27, 2010

Pembaca yang terhormat, pada artikel-artikel sebelumnya saya telah mencoba menulis beberapa opini tentang pengistilahan difabel sebagai istilah yang saya pandang lebih manusiawi dibanding kata “cacat.
Difabel berarti berbeda kemampuan yang sebenarnya mengarah kepada perbedaan cara untuk melakukan sesuatu. Nah, untuk membuktikannya tips di bawah ini dapat menjadi sebuah bukti.

Tunanetra mengoperasikan hand phone secara mandiri

Pernahkah kita membayangkan ada seorang tunanetra yang mampu mengoperasikan handphone, mulai dari mengatur kontak, membuka, membaca dan bahkan mengirim SMS sendiri? Read the rest of this entry »

PERLU ADA KURIKULUM PERSPEKTIF DIFABILITAS

March 26, 2010

SIGAB, 20 Januari 2010 Perlu ada sebuah pematangan konsep tentang difabel dan perspektif difabilitas di Indonesia. Setidaknya, hal inilah yang muncul pada sebuah diskusi santai yang berlangsung di SIGAB yang diikuti oleh beberapa staf dan relawan SIGAB serta beberapa project officer baru Handicap International untuk program Disability Rights di Indonesia.
Read the rest of this entry »

KAJARI SUKOHARJO MELECEHKAN WARTAWAN DIFABEL

March 26, 2010

SUKOHARJO – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sukoharjo Kardi dianggap melecehkan kaum difabel yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan. Seperti yang dialami
Beny Surya, kontributor televisi lokal Solo.
Read the rest of this entry »

CACAT VS NORMAL

March 15, 2010

Pembaca yang terhormat,
Berikut saya coba berbagi sebuah powerpoint presentation yang saya sajikan pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Karina Klaten beberapa bulan yang lalu.
Secara garis besar, presentasi ini membahas perdebatan antara mengapa orang-orang yang berbeda diistilahkan sebagai penyandang cacat yang sebenarnya terbentuk dari sebuah faham normalisme yang telah terkonstruksi pada tatanan masyarakat. Pada akhir presentasi ini, dielaborasi penggunaan istilah difabel yang dipandang sebagai istilah yang lebih manusiawi yang mencoba mengakomodasi perbedaan untuk sebuah kesetaraan dan inklusifitas.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.
File tersebut dapat didownload padaCACAT VS NORMAL

PENDIDIKAN INKLUSIF; ANTARA KONSEP, KEBIJAKAN DAN PRAKTEK

March 15, 2010

Pembaca yang terhormat,
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk berbicara di Lembaga Administrasi Negara pada sebuah focus group discussion dalam rangka merumuskan menejemen pelayanan berbasis inklusif yang akan dirumuskan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN). Berikut adalah share saya tentang paper yang saya sajikan dalam forum diskusi yang sangat menarik tersebut.

Pendahuluan

Seiring dengan perkembangan sejarah perubahan sosial dari masa ke masa, pemahaman orang terhadap keberadaan kelompok berkebutuhan khusus, penyandang cacat, difabel, penyandang ketunaan maupun istilah lain yang dimaksudkan untuk merujuk subyek yang sama (dengan idiologi dan konsepsi yang berbeda) pun telah mengalami banyak perubahan. Secara garis besar, setidaknya ada dua konsepsi yang dalam sepanjang perkembangan sejarah perubahan social serta penteorian difabililitas cukup dominant.
Yang pertama adalah pandangan medis/individual, yang melihat dan menempatkan kecacatan sebagai sebuah permasalahan individu. Secara ringkas, pandangan ini menganggap kecacatan/impairment sebagai sebuah tragedy personal, dimana impairment selalu diposisikan sebagai akar permasalahan serta penyebab atas hambatan aktifitas serta berbagai bentuk ketidak beruntungan social yang dialami (Barnes and Mercer, 1996). Model/pandangan ini pun diadobsi dalam sebuah instrument internasional yang dipublikasikan oleh WHO pada tahun 1980, yang dikenal dengan ICIDH (International Clasification of Impairment, Disability and Health). Dalam klasifikasi internasional ini, WHO, dengan keterlibatan dominant kelompok-kelompok professional medis, sekali lagi menegaskan hubungan kausal antara impairment /keterbatasan fungsi, disability / ketidak mampuan/hambatan aktifitas, serta handicap / ketidak beruntungan social (WHO 1980, Oliver 1990, Oliver, pada Barnes and Mercer 1996).
Adapun pandangan ke dua adalah pandangan/konseptualisasi difabilitas yang terlahir atas dominasi konsepsi difabel dan bagaimana semestinya lingkungan social memandang diri mereka. Pandangan yang disebut dengan social model, yang belakangan kemudian berkembang menjadi pandangan yang melihat difabilitas dalam pendekatan HAM ini dibangun atas sebuah prinsip dasar bahwa kecacatan/impairment maupun keterbatasan fungsional sesungguhnya tidak pernah mempunyai korelasi langsung terhadap apa yang dikatakan sebagai disability / ketidak mampuan aktifitas, maupun juga partisipasi social (UPIAS 1996, dan Barnes dan Mercer 1996). Disability, , menurut pandangan ini tidak lain dikarenakan atas kegagalan masyarakat, lingkungan serta negara dalam mengakomodasi apa yang menjadi kebutuhan difabel (UPIAS, 1996). Read the rest of this entry »

MEMBANGUN MASYARAKAT INKLUSIF; MAKNA INKLUSIF BAGI DIFABEL

March 12, 2010

Mengawali tulisan ini, penulis ingin sedikit mencoba mengelaborasi apa yang kita katakan sebagai inklusivitas/inklusif yang akan didiskusikan. Bagi sebagian orang, istilah inklusif mungkin sudah tidak asing lagi. Namun, penulis yakin tidak demikian halnya bagi sekelompok orang lain, yang barangkali akan juga membaca tulisan ini.
Read the rest of this entry »